dipisahkan jarak bukanlah hal yang menyakitkan
yang menyakitkan adalah dipisahkan dinding
dan biarlah rindu ini tetap ada meski tak bersahut
seiiring jiwa yang meronta dan terus menggema
bergemuruh gaduh di setiap sudut sukma
yang terlunta tanpa hirau
dan terasing bersama gelap yang di telan siang kemudian mendung merebutnya bersamaan rintik hujan
mulutpun enggan lagi berteriak
karena sudah pasti tak didengar
namun jemari tetap gatal menari
di setiap barisan hurup tanpa titik dan koma
dengan rangkaian kalimat sedih yang memuakan
meski hati sudah meyakinkan takkan ada yang membacanya
nyatanya ini memang nuansa
entah memaksa dipaksa atau terpaksa
spontanitas memacu imaji tanpa batas
melampaui digit kalkulasi
di setiap spekulasi yang terus
mengkaji setiap arti di semua sisi
membasahi dahaga sukma yang terlampau kering
di kemaraunya hati yang terperangkap sepi
dan lelah berkamuflase tegar di keramaian
bukan cemoohan makian dan hinaan yang menyakitkan
bukan pujian dan sanjungan yang mengindahkan
hanya inginkan rasa saling
namung semua berpaling
karena setiap orang punya inginnya masing masing
lalu masih pantaskah bertanya adil?
adil itu dimana? seperti apa bentuknya?
bahkan masih banyak tanya tanpa hirau
seolah semua hanya sebuah gurau
tak ada jawabnya meski berulang hingga suara parau
lalu lelah kembali menggoda
dan amarah menghasut
tak puas menagih kembali
lahirlah selisih yang kemudian mencerai berai
hadirkan hardik hujat dan fitnah
memanen kebencian
memisahkan yang dekat
meniadakan yang ada
dan terkubur bersama sesal
jadi sejarah kenangan usang
kemudian membangkai
baunya hilang kemudian terlupakan
jakarta pagi ini
kmardi
yang menyakitkan adalah dipisahkan dinding
dan biarlah rindu ini tetap ada meski tak bersahut
seiiring jiwa yang meronta dan terus menggema
bergemuruh gaduh di setiap sudut sukma
yang terlunta tanpa hirau
dan terasing bersama gelap yang di telan siang kemudian mendung merebutnya bersamaan rintik hujan
mulutpun enggan lagi berteriak
karena sudah pasti tak didengar
namun jemari tetap gatal menari
di setiap barisan hurup tanpa titik dan koma
dengan rangkaian kalimat sedih yang memuakan
meski hati sudah meyakinkan takkan ada yang membacanya
nyatanya ini memang nuansa
entah memaksa dipaksa atau terpaksa
spontanitas memacu imaji tanpa batas
melampaui digit kalkulasi
di setiap spekulasi yang terus
mengkaji setiap arti di semua sisi
membasahi dahaga sukma yang terlampau kering
di kemaraunya hati yang terperangkap sepi
dan lelah berkamuflase tegar di keramaian
bukan cemoohan makian dan hinaan yang menyakitkan
bukan pujian dan sanjungan yang mengindahkan
hanya inginkan rasa saling
namung semua berpaling
karena setiap orang punya inginnya masing masing
lalu masih pantaskah bertanya adil?
adil itu dimana? seperti apa bentuknya?
bahkan masih banyak tanya tanpa hirau
seolah semua hanya sebuah gurau
tak ada jawabnya meski berulang hingga suara parau
lalu lelah kembali menggoda
dan amarah menghasut
tak puas menagih kembali
lahirlah selisih yang kemudian mencerai berai
hadirkan hardik hujat dan fitnah
memanen kebencian
memisahkan yang dekat
meniadakan yang ada
dan terkubur bersama sesal
jadi sejarah kenangan usang
kemudian membangkai
baunya hilang kemudian terlupakan
jakarta pagi ini
kmardi