Jumat, 01 Februari 2019

Terkaan

dipisahkan jarak bukanlah hal yang menyakitkan
yang menyakitkan adalah dipisahkan dinding
dan biarlah rindu ini tetap ada meski tak bersahut
seiiring jiwa yang meronta dan terus menggema
bergemuruh gaduh di setiap sudut sukma
 yang terlunta tanpa hirau
dan terasing bersama gelap yang di telan siang kemudian mendung merebutnya bersamaan rintik hujan
mulutpun enggan lagi berteriak
karena sudah pasti tak didengar
namun jemari tetap gatal menari
di setiap barisan hurup tanpa titik dan koma
dengan rangkaian kalimat sedih yang memuakan
meski hati sudah meyakinkan takkan ada yang membacanya
nyatanya ini memang nuansa
entah memaksa dipaksa atau terpaksa
spontanitas memacu imaji tanpa batas
melampaui digit kalkulasi
di setiap spekulasi yang terus
mengkaji setiap arti di semua sisi
membasahi dahaga sukma yang terlampau kering
di kemaraunya hati yang terperangkap sepi
dan lelah berkamuflase tegar di keramaian
bukan cemoohan makian dan hinaan yang menyakitkan
bukan pujian dan sanjungan yang mengindahkan
hanya inginkan rasa saling
namung semua berpaling
karena setiap orang punya inginnya masing masing
lalu masih pantaskah bertanya adil?
adil itu dimana? seperti apa bentuknya?
bahkan masih banyak tanya tanpa hirau
seolah semua hanya sebuah gurau
tak ada jawabnya meski berulang hingga suara parau
lalu lelah kembali menggoda
dan amarah menghasut
tak puas menagih kembali
lahirlah selisih yang kemudian mencerai berai
hadirkan hardik hujat dan fitnah
memanen kebencian
memisahkan yang dekat
meniadakan yang ada
dan terkubur bersama sesal
jadi sejarah kenangan usang
kemudian membangkai
baunya hilang kemudian terlupakan

jakarta pagi ini
kmardi

Senin, 29 Oktober 2018

naluriku kadang salah
imajipun selalu abstrak
membiasakan aku tergerak
berdasarkan hati dan fikiran
dan abaikan doktrin 
yang mengilusi
mencoba memotori
dan memetamorfosa keadaan
ketika kelakar berujung sumpah
berikrar dianggap sampah
ramah berbuah serapah
sopan berbenih ancaman
dan sepipun menjadi teman
temaram menjadi sandaran
mencoba waras dan tak gila
sadar dalam mimpi
abaikan semua imaji
bakar setiap kenangan dan memori
yang mencoba memonopoli diri
aku lelah berjudi dan bertaruh
muak mengenangnya lagi dan lagi
memikirkannya dalam plagiat sepi
mengingatnya hanyalah potret klise nan abadi
sakitnya membuat hati bereaksi
memberontak melarikan diri
dari jerat bangsat yang tersenyum lirih
mencibir luka yang semakin perih
sungguh ku tak ingin bermiris kata
dan mengiba dalam luka
biarkan naluri mambawanya
kemanapun arahnya
apapun aralnya
rintangannya
hakikat nyata sebuah logika
aku masih bisa berdiri tegak
meski penu hluka
matahari tetap bersinar
siang tetap lah terbit
tak perduli dengan siapapun
kukan melewatinya
senja tetaplah indah
menyambut gelap
menjemput malam
yang kan selalu datang
meski dengan siapa
ku kan menghabiskannya
dan semua tak lagi sama
tak mesti sama
batin yang terluka selalu teriak dalam hampa
diamana letak bahagianya entah???
masih bisa bernafas pagi ini adalah jawabnya

kevinmardi

Kamis, 12 April 2018

menjilat matahari

angin menjamah helai daun
gugur pelan jatuh ketanah
melambai mengayun dan berombak
tiap bulir peluh hanyalah kehampaan
jari meregang dada
rasakan detak jantung
dan menghitung detik yang terbuang
berharap waktu memihak
tapi waktu tak menunggu
ia terus berlalu
daun pun berguguran
keringatpun tlah mengering
sesalpun tak ada arti
menanti mencari tak ada yang pasti
mengurung hati dalam sepi
membusuk hingga mati
apa yang ditahan
tahan tawa tahan sedih
tetap saja waktu bergulir
tak bisa ditawar tak bisa dibeli
umur bertambah raga kan renta
diam atau pergi
bertahan atau membusuk hingga mati
JAKARTA SIANG INI
13042014
KEVINMARDI

Kamis, 05 April 2018

pungguk yang masih merindu

dan punggukpun kini sedih
bulannya sembunyi tertutup mendung
hatinya menjerit resah murung
rindu tebalnya terhalang awan,
bayangnya hilang ditelanan gelap
punuk meratap nasibnya malang
harapannya memupus malam ini
pungguk rindu sinar bulan
pungguk ingin menjamah bulan
pungguk ingin disapa bulan
pungguk sedih bulannya hilang
jangkrik jangkrik berceloteh mengejek
punuk semakin sedih dalam bising
hingarnya memasung ironi
dalam kisah elegi patah hati
dalam kelamnya malam
memekat hitam buat ia samar
harapkan langit segera cerah
harapkan bulan menyapa ramah
harapnya pupus mendung tak jua reda
harapnya hilang
hilang harapnya
jakarta malam ini 

Minggu, 01 April 2018

biasa ajah

tak ada yang kurang dan tak ada yang lebih
biasa saja tak ada kejutan yang istimewa
hari kedua di bulan april
matahari sama indahnya dengan kemarin
aktifitas ku masih juga sama 
masih sarapan pula dengan menu yang sama
hal yang patut aku syukuri karena
semuanya masih normal
dan berjalan semestinya
dan menghirup nafas sebanyak2nya
dan merasakan hidup sampai hari ini
ditengah hiruk pikuk kota
kota yang penuh tanda tanya
angan dan jutaan harapan
dan aku disini dijakarta
ibukota yang menjadi daya tarik
dimana semua suku bangsa dan daerah
berbondong dan berkumpul disini
dengan segala perbedaan yang ada
beda warna beda gaya beda bahasa
dan perbedaan perbedaan lainnya
banyak ragam disini dan sulit untuk menjadi seragam
tak ada dominasi warna semua ambil peran yang sama
sama sama pendatang sama sama bertahan hidup
mencari dan mengumpulkan sebanyakbanyaknya
ada mayoritas ada minoritas,tapi
semua memenuhi kewajiban hidup yang sama
tak kerja ya tak dapat uang
tak dapat uang ya tak makan
tak makan ya sakit
sakit ya tak bisa apa apa!
semua orang ingin sehat
sehat hati sehat raga dan sehat pikiran
begitu banyak varian dan menu yang tersaji
dimana kasta dan rimba masih berlaku disini
diskriminasi dan stigminasi lumrah terjadi
dimana yang kuat bertahan yang lemah tersingkir
yang membuat diri terlupakan atau mungkin melupakan
ya disini jelas tempat orang2 lupa
lupa akan tujuan awal dikarenakan
banyaknya pilihan yang ada
di tengah tamak dan congkaknya hawa nafsu
yang membungkam nurani
dan serba mengeksekusi demi sebuah materi
yang menjadi alasan dan sebuah motivasi
acuan hidup yang memaksa tuk tetap berdiri
tak bertahan ya mati
bertahan ya hidup
jakarta pagi ini

Sabtu, 31 Maret 2018

jakarta malam ini

tanggal pertama di bulan april
langit tak begitu temaram
masih ada sisa merah panas nya
kemarau jakarta siang tadi
suasana pun tak begitu senyap 
masih ada sekelumit hiruk pikuk
dan lalu lalang kendaraan
yang entah kemana dan dari mana tujuannya?
sedang diriku sendiri hanya diam disini
entah kan kemana aku nanti
aku tak menentukannya
kata yang tepat saat ini adalah ANTARA
akupun tak tahu aku ditengah apa
aku membayangkan sedang berdiri
di tengah neraca yang beratnya sama
jika salah satu kupijak pasti berat sebelah
aku tak sedang menimbang
juga tak memperhitungkan
aku mencoba seimbang dan setegak mungkin
langkah yang tertahan penuh keraguan
takut takut salah pijak kemudian tergelincir
meski aku sudah berkali kali terjatuh
dan merasakannya tapi kali ini aku benar bimbang
hak kalian menilai ini sebuah drama atau opera
jelas peran kita berbeda
jika ditanya apa bedanya
entahlah aku tak pernah memikirkannya
pikirku tak mungkin terbagi
disituasi seperti ini
yang aku tahu di depan tebing tinggi tlah menanti
untuk kudaki yang kan berhasil kupanjat
atau menggelincirkanku kejurang
jakarta malam ini 

Senin, 26 Maret 2018

Hati yang berontak

ia ingin berjalan bukan hanya sekedar menatap
inging meraih dan tak sabar menanti
ingin bicara bukan hanya diam membisu
ingin didengar bukan hanya mendengar
dia seperti terpenjara dalam gelap
butuh secerca cahaya penunjuk jalan
kemana arahnya kan ia bawa
bukan sekedar merasa dan mendekap hampa
ia bicara tapi tak terdengar
tapi ia sangat ingin di dengar
sudah lama ia terjerembab dalam kubangan
dan dilembah terdalam yang berlumut
ia meraung dan menggema
berharap bebas dan lepas
ia susah bernafas dan sangat ingin bernafas
ia ingin rasakan udara sesegar segarnya
cukup lama ia tertahan diam tak bergeming
kini ia mulai rasakan dahaga segera
ia tak ingin samar dan pekat dalam jiwa
sesekali ia inging bersinar meneranginya
karena ia kita manusia bisa merasa